|
Aku ini terluka, di tepian rumput yang menggersang, di guguran daun membusuk di situ kutemukan bau kegalauan hati. Angin mengalir di pipi, menghinaku dengan tamparannya seakan aku ini bukan seorang manusia, ia menggoda anganku untuk kembali. Sedangkan gemericik air, yang dulu selalu menemaniku, sekarang bernyanyi sumbang, seakan aku ini seorang anak yang terbuang. Kepada siapakah aku menangis, ketika semua orang terluka, kepada siapakah aku meronta, ketika semua orang binasa. Sebab yang bersemayam ini adalah gugusan goresan tersalib dalam paku-paku masa lalu yang terus mengancamku. Aku ini ada untuk siapa Aku lebam aku kusam hingga kulihat Dia yang tersalib itu meneteskan sedikit darahnya di kakiku kuraih dengan ujung jariku dan kumasukkan ke dalam mulutku. Ia yang bukan manusia yang sanggup memberiku kuasa untuk membakar saja rumput kering yang membusuk di bawah rindangnya pohon takberdaun. April 2010 |