|
Mataram itu dulu Kotaku kini bernama seribu. Ngayogyakartahadingrat dalam getaran keagungan istanamu Yogyakarta dalam peta negerimu Jogja dalam wisatamu Yogja dalam salah ucap orang dalam candamu. Lalu siapakah engkau, kotaku? Namamu adalah jalan-jalan penuh senyum Penarik becak dalam peluh siangnya Lalu delman, sepeda, motor, mobil, juga bis dan taksi Berbaur di jalan sempitmu Merayakan kebersamaanmu Seperti makan bersama di sekitar tumpengmu Atau berebut kue apem di keratonmu Tunggu dulu, di sana ada tulisan “silakan antri” dan orang-orang merubung tulisan itu sambil mereka mengernyitkan dahi “aha inilah hal yang baru itu” Lalu, siapakah yang mendirikan pasar tinggi itu? Ah di sini tak bisa kutawar lagi soal harga. Tapi lihat, Anakmuda pun lupa sarung dan blangkonmu, Cuma cas-cis-cus inggris dia tahu, Gamelan jawa, mana kutahu. Lalu aku duduk di tengah puri taman sarimu Seandainya aku hidup di masa lalu Mungkin aku akan lebih terharu. (Teringat akan Jogja ketika di Jakarta, 2008) |