Halaman Depan

Website Puisi‎ > ‎Puisi Pembangunan‎ > ‎

Renungan Ujung Jakarta

Di sini orang, di sana orang
kulihat dari lantai lima gedung ini, genting-genting menaungi orang
batas-batasnya adalah orang.

Di jalanan orang, di dalam mobil orang
kulihat dari lantai tujuh gedung ini, orang berserobotan naik bus kota
yang di dalam mobil berserobotan mau jalan duluan
orang lain masa bodohlah.

Di tempat duduk orang, di atas ojek orang, yang jajan di pinggir jalan orang
kulihat dari atas bajaj ini, orang menjajakan semuanya di jalan raya
ada yang menawarkan rokok, teh, kopi, coca-cola,
ada pula buku, majalah, suara fals, bahkan dirinya,
semuanya orang.

Orang penuh orang.
Ada orang memaki orang, ada yang cari duit dari orang.

Ada yang menghitung orang
tujuh juta
ada yang empat belas juta.

Ada pula ramai membahas apa kata orang
di koran
di majalah
di internet
di gosip
di tutur palsu
orang membahas orang
orang dibahas orang
seakan dirinya bukan orang.

Lalu aku berhenti di taman Ismail Marzuki,
menonton sebuah pertunjukan yang pemainnya mengaku bukan orang,
lalu aku bertanya kepada diriku sendiri,
di manakah manusianya?