|
Kapten Cook berdecak karena kanal-kanal Bataviamu. Kanan kirinya pohon hijau nan rindang selalu. Bangunan rapih tersusun dalam harmoni kotamu. Seribu tujuh ratus delapan belas, Di tahun itulah cantikmu, melebihi kota-kota moyangku. Dimanakah kanal? Aku bertanya. Oh itu, katanya. Seseorang menunjuk tempat sampahmu Panjang dan dalam, kotor dan menyengat. Riuh rendah suaramu kini berpacu dalam derap debu. Dua ribu delapan kini, Di manakah cantikmu, kurindu masa Bataviamu. Jakarta, 2008 |