|
Brum
brum klotak-klotak crek drong drug brak A... mati aja kalian... sialan... pergi! pergi! Brum brum klotak-klotak Seorang wanita dengan pisau dapur berteriak terluka, "Pergi! pergi!" Seorang polisi pamong praja mengangkat dua tangannya, "Sabar-sabar!" Seorang pria tua memaki, "Ini rumah kami!" Seorang yang entah siapa menonjok wajahnya Pria tua itu terkapar, di pangkuan cucunya yang bisu tuli. Hari masih pagi, buldoser tua merasuk rumah-rumah lembek satu kali dua meter persegi di tepi kali kotor penuh tahi tahi orang, tahi industri, tahi mal-mal. Seorang pemuda tak bisa membaca murka, "Kami menuntut hak kami!" lalu seseorang dengan kulit bersih memberikan secarik kertas, "Inilah hakmu" pemuda itu merobeknya. Buldoser berkata, "minggir!" Brum brum klotak-klotak Dalam sekejap semua sirna: boneka, odol, sabun, mainan robot-robotan yang baru dibeli kemarin di pasar malam, hape murahan yang kemarin dibeli dengan menabung setahun, celana dalam yang masih baru, kaos bekas bermerek mahal pemberian seseorang, dan susu si Uning, lenyap sudah apalah artinya, itu semua, bagi seekor atau mungkin seonggok buldoser Tinggallah sekarang seorang ibu rumah tangga yang masih meronta-ronta hendak mengambil susu anaknya, dipegang polisi pamong praja seorang pemuda yang melongo menatap celana dalam barunya yang belum sempat dipakainya seorang kakek yang baru sadar dari pingsannya seorang cucu bisu tuli yang tak tahu apa yang terjadi menatap puing-puing rumah mereka dalam hiasan debu dan sisa kobaran api Selesailah tugas buldoser kini, sambil ia tak tahu, buldoser lain sedang masuk dalam jiwa orang-orang ini dalam mimpi-mimpi mereka ketika mereka tidur di kolong-kolong kota. Kirimkan komentar |