Halaman Depan

Website Puisi‎ > ‎Puisi Pembangunan‎ > ‎

Buldozer

Brum
brum
klotak-klotak
crek
drong
drug
brak

A...
mati aja kalian...
sialan...
pergi!
pergi!

Brum
brum
klotak-klotak

Seorang wanita dengan pisau dapur berteriak terluka,
"Pergi! pergi!"

Seorang polisi pamong praja mengangkat dua tangannya,
"Sabar-sabar!"

Seorang pria tua memaki,
"Ini rumah kami!"

Seorang yang entah siapa
menonjok wajahnya
Pria tua itu terkapar,
di pangkuan cucunya yang bisu tuli.

Hari masih pagi,
buldoser tua merasuk
rumah-rumah lembek
satu kali dua meter persegi
di tepi kali kotor penuh tahi
tahi orang, tahi industri, tahi mal-mal.

Seorang pemuda tak bisa membaca murka,
"Kami menuntut hak kami!"
lalu seseorang dengan kulit bersih memberikan secarik kertas,
"Inilah hakmu"
pemuda itu merobeknya.

Buldoser berkata,
"minggir!"
Brum
brum
klotak-klotak

Dalam sekejap semua sirna:
boneka, odol, sabun,
mainan robot-robotan yang baru dibeli kemarin
di pasar malam,
hape murahan yang kemarin dibeli
dengan menabung setahun,
celana dalam yang masih baru,
kaos bekas bermerek mahal pemberian seseorang,
dan susu si Uning,
lenyap sudah
apalah artinya,
itu semua,
bagi seekor atau mungkin seonggok buldoser

Tinggallah sekarang
seorang ibu rumah tangga yang masih meronta-ronta
hendak mengambil susu anaknya, dipegang polisi pamong praja
seorang pemuda yang melongo
menatap celana dalam barunya yang belum sempat dipakainya
seorang kakek yang baru sadar dari pingsannya
seorang cucu bisu tuli yang tak tahu apa yang terjadi
menatap puing-puing rumah mereka
dalam hiasan debu dan sisa kobaran api

Selesailah tugas buldoser kini,
sambil ia tak tahu,
buldoser lain sedang masuk dalam jiwa orang-orang ini
dalam mimpi-mimpi mereka
ketika mereka
tidur di kolong-kolong kota.
 
Kirimkan komentar