Halaman Depan

Entah Apa

Website Puisi‎ > ‎Entah Apa‎ > ‎

Persekongkolan Pagi Hari

Pagi ini kuseduh teh melati
ditemani pisang goreng dan koran berisi opini politisi
ketiganya kutelan, lalu masuk ke otak kanan dan kiri.
Tiba-tiba saja aku curiga akan persekongkolan mereka:
secangkir teh melati, sebuah pisang goreng, sebuah koran.

Kemarin,
teh melati berkata, bahwa hidup ini perlu dinikmati, tak perlu risau
hidup mati.
tidak ada pisang goreng yang menggoda yang menemani hasrat pagi.
dan koran berkata kepadaku, negeri tanpa korupsi atau dengki.

Hari ini,
teh melati berkata, hidup masih bisa dinikmati,
pisang goreng nikmat dalam minyak kolesterolnya, sambil berbisik berkata
"Aku mengingini milikmu yang berharga"
di saat koran berkata, "Politisi ingin mengebirimu".

Aku jadi ngeri sendiri
Soalnya, antara "milikku yang berharga" dan kata "kebiri"
adalah mengenai satu soal.

Aku curiga,
Teh melati pasti berbohong bahwa hidup bisa dinikmati,
sebab ia berperan sebagai penggoda nafsu
dan pisang goreng yang menggiurkan, hendak membawaku ke tempat yang nikmat
penuh dosa.

Sedangkan koran,
Ya, koran adalah biang keladi dari semua persekongkolah ini.
Kemarin dia berkata dunia ini berseri dengan semua pejabatnya berseri-seri,
"Suara hati kami bawa, meski taruhannya mati"
tapi, hari ini dia menampilkan
iri
benci
dengki
korupsi
mati
dan ngeri
pejabat yang dulu berseri-seri.

Pasti mereka akan segera mengebiri
milikku yang paling berharga:
nurani.
 
Masukkan komentar